ENERGI MASA DEPAN

Air adalah salahsatu dari energi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber putaran pada poros turbin, dll

Mari Bergabung

Lorem ipsum dolor sit amet, nisl elit viverra sollicitudin phasellus eros, vitae a mollis. Congue sociis amet, fermentum lacinia sed, orci auctor in vitae amet enim. Ridiculus nullam proin vehicula nulla euismod id. Ac est facilisis eget, ligula lacinia, vitae sed lorem nunc.

SEMANGAT PAPUA YANG HILANG

 Setelah mengikuti berbagai perkembangan dansituasi yang terjadi ada beberapa aksi yang dibuat ataupun sekedar kumpul untuk berdiskusi dan membahas persoalan yang terjadi ditanah Papua, selalu saja yang terlihat hanya segelintir orang, sekelompok anak papua yang masih peduli lalu bagaimana dengan anak papua, generasi muda papua yang lainya ?
Melihat hal ini maka timbulah pemikiran dan pertanyaan apa  yang membuat semangat Papua Merdekahilang, takutkah ?  entahlah apa yang membuatsemangat itu hilang tetapi ada beberapa hal yang mempengaruhi atau melatarbelakangi hilangnya rasa kebersamaan, rasa persatuan  diantaranya seperti dibawah ini :

1.     Kurangnya PengetahuanSejarah Papua
Kurangnya Pengetahuan SejarahPapua, karena sejak bangku sekolah dasar sampai tingkat  perguruan tinggi sejarah yang dipelajariadalah sejarah bangsa Indonesia, dasar, lambang dan lainnya tentang Indonesia sementaratentang sejarah Papua tidak ada sama sekali.

2.     Ruangpergaulan yang sempit
Bergaul sebatas kumunitasataupun belajar dalam lingkup area sekolah saja, tanpa ada pembauran denganrekan-rekan kabupaten lainnya, mungkin karena rasa malu hati yang tinggi atau hallainnya, setidaknya ini membuat informasi dan berita-berita tentang papua tidakbegitu diketahui.

3.     Traumasituasi
Mengikuti perkembangan situasidan kondisi yang terjadi di Papua, dimana kekerasan dipakai sebagai solusiuntuk menghancurkan, untuk meredam dan untuk membubarkan massa pendukung papua merdeka. Aksi demo,unjukrasa, penuntutan ini dan itu, selalu berakhir dengan bentrok dan banyakrakyat papua yang menjadi korban; hal inipula yang membuat separuh generasimuda papua takut untuk ambil bagian didalam gerakan-gerakan yang ada. Takutakan bahaya yang akan didapat. 

4.     Pengaruhpergaulan luar
Malas bergaul dengan anak-anak Papualainya lebih memilih bergaul dengan suku-suku diluar Papua, hal ini bisa dilihatdari ada banyak anak Papua yang malas tahu akan adanya aksi ini atau itutentang Papua, lebih memilih bersantai bersama teman bergaulnya dan menganggapapa yang dilakukan sesame papua lainnya adalah suatu hal yang aneh, lucu danlain sebagainya. 

5.     Hal-hal lain
Sikap pasif, memilih diam untuksegala situasi, membiarkan yang lain bergerak. Malas tau.

 
Kurang dan lebih, Ini pendapat saya dan apa yangsaya lihat coba saya tuliskan disini; masih ada beberapa hal lainnya lagi tetapdicukupkab batas ini saja. Bukan maksud hati untuk saling mematahkan semangat Papua ataupun menyalahkan yang laintetapi bagaimana kita sudahi, mari kita sadari sebagai generasi penerus bangsa Papua, kitaharus bersatu, bangkit dan lawan sistem Negara Indonesia.
By. Phaul Heger
READ MORE -

Anak Ini Ulang Tahun

Waktu berjalan tiada henti
mengiringi rembulan dan mentari
yang terbit nan tenggelam setiap hari
mengiringi usiamu yang terus bertambah dari hari ke hari
hingga saat ini ;..


Sekian tahun sudah bersama dengan orang-orang sekitarmu,
dan setiap perbuatanmu telah membentuk karaktermu,
dan setiap langkahmu telah membawamu mendekati atau menjauhi
cita-citamu,
dan kelak...
setiap tarikan nafasmu akan dimintai pertanggungjawabannya,
untuk menentukan tempatmu di alam yang abadi...
Selamat Ulang Tahun
Semoga langkah-langkahmu semakin matang
dan selalu membawamu ke arah yang lebih baik.

Hal yang terkecil membentuk kesempurnaan, namun kesempurnaan bukanlah hal yang kecil. Happy b’day My Bro”








































READ MORE -

Apa Artinya "PAPUA MERDEKA?

Bagi Nasionalis Papindo dan Nasionalis Papua

Banyak wacana yang mengatasnamakan "Papua Merdeka" mengemuka dalam pentas politik di Tanah Papua. Mungkin sebagian besar sudah tahu apa maksudnya, tetapi barangkali tidak salah juga kalau saya luangkan waktu sedikit untuk menjelaskan arti dan makna "merdeka" bagi orang tua saya di kampung.



1. Sejumlah Istilah yang Mirip tetapi Kadangkala Sama, walaupun Mereka Berbeda dalam Pemaknaannya

Sejumlah kata yang dipakai dalam mengungkapkan kata "merdeka" membuat kita selalu salah paham mengingat pertama karena asal-usul katanya tidak dijelaskan dengan baik semenjak penerjemahannya terutama ke dalam bahasa Inggris. Jelas pembelokan makna terjadi tanpa disadari. Kedua karena ada upaya menggunakan kata-kata ini dalam konteks "political correctness" artinya kata ini sering dipakai dalam wacana politik secara berbeda maksudnya bagi masing-masing pihak dalam rangka menyenangkan para pendengar. Ketiga memang karena konteks sosial-politik dan budaya berbeda sehingga penggunaannyapun bermakna ganda. Bisa terjadi penurut/ penulis bermaksud agak berbeda/ berlainan dengan yang dipahami pendengar/ pembaca.


2. Kata Merdeka dan Bebas yang selalu Membuat Kita Rancuh dalam berwacana

Kata Merdeka artinya "Independent", sementara "Bebas" artinya "Free". Tetapi dalam penerapannya, Papua Merdeka sering diartikan sebagai Free West Papua, contohnya Organisasi Papua Merdeka menjadi Free Papua Movement atau Free Papua Organisation. Kata 'independent' tidak dipakai. Kata "kemerdekaan" juga sering diterjemahkan sebagai 'freedom', bukan 'independence'.


3. Freedom mengandung Makna "Free from..." dan "Free to..."

Terlepas dari kebingungan tadi, kita perlu memahami arti dan makna dari kata "merdeka" dengan melihat dua sisi pedang politik dan demokrasi bernama "kebebasan" atau "freedom". Kebebasan mengandung makna pertama-tama sebagai "free from..." yaitu "bebas dari..."; dan kedua "free to...", "bebas untuk..."



Contoh penggunaan dalam konteks politik Papua Merdeka, misalnya

3.1 Bebas dari kekerasan dan pelanggaran HAM dalam era Otsus (yaitu mengandung makna 'free from...') tadi.

3.2 Bebas untuk berkumpul, berorganisasi dan menyampaikan pendapat (yaitu mengandung makna 'free to...') tadi.



Demokrasi dan HAM menjamin "kebebasan", berarti mengandung makna kedua-duanya. Akan tetapi kita patut ingat juga bahwa kebebasan masing-masing orang/ kelompok itu dibatasi/ dikekang oleh kebebasan-kebebasan yang ada di antara entitas yang ada. Misalnya kebebasan orang Papua mengibarkan Bendera Bintang Kejora dibatasi oleh kehadiran NKRI dengan bendera Merah-Putihnya. Contoh lain tentu saja seorang pejabat tidak bebas mengambil uang rakyat dan menggunakannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Kebebasan masing-masing pihak diikat oleh aturan-aturan yang dibuat dalam entitas yang ada.

***


Kalau kita kaitkan "kemerdekaan" dengan "kebebasan", dikaitkan lagi dengan "self-determination" atau "penentuan nasib sendiri", maka maknanya semakin mengambang dan mengacaukan wacana kita sendiri. Semua mengemuka dalam rangka 'political correctness' tadi, jadi kita tidak usah terlalu memusingkan diri dengan wacana.


4. Dengan Pemberlakuan Otsus, maka Papua Sudah Merdeka, begitukah?

Kalau Jaap Solossa dulu waktu hidup banyak kali ia mengatakan "Papua sudah merdeka". Alasan utamanya ialah "orang Papua sudah dibebaskan dari...", bukan "diberikan kebebasan untuk...". Atau barangkali saat ini Solossa diberikan banyak kewenangan untuk mengatur daerah, makanya ia menganggap Otsus juga telah memberikan kebebasan untuk..., entah mungkin untuk mengatur uang semaunya, dan sejenisnya.

 Ada juga menganggap Papua sudah merdeka di dalam Otsus NKRI karena orang Papua kini diakui dan diperlakukan lebih istimewa secara hukum dan politik di antara provinsi yang ada di Indonesia.

 Singkat kata, "Orang Papua dapat banyak uang dari Jakarta, jadi orang Papua bisa bikin apa saja dengan uang itu sesuai kemauan dan rencananya, oleh karena itu Papua sudah merdeka."

 Dengan mengatakan begitu, mereka menentang "Papua Merdeka" yang diperjuangkan OPM dan gerilyawan di Rimba New Guinea.


5. "Papua Merdeka" BUKAN hanya "Free from...", tetapi "Free from..." PLUS "Free to..."

Nasionalis Papua kebanyakan menganggap Otsus bukanlah arti "Papua Merdeka" yang mereka maksudkan. Yang mereka maksudkan ialah

    5.1 Bebas mengibarkan Bintang Kejora

    5.2 Bebas menyanyikan lagu kebangsaan "Hai Tanahku Papua"

    5.3 Bebas dari kehadiran TNI dan Polri beserta segenap aparatur dan pemerintah NKRI

    5.4 Bebas dari kehadiran NKRI di Tanah Papua, artinya tidak ada NKRI di Tanah Papua

         dan seterusnya, pokoknya kebebasan dimaksud harus terkait langsung dengan "ketiadaan" NKRI di       Tanah Papua.


6. Nasionalisme, Papua Merdeka di dalam NKRI dan Papua Merdeka di Luar NKRI

Nasionalis Papua yang menginginkan NKRI keluar dari Tanah Papua mencap dirinya nasionalis. Demikian juga dengan kaum pendukugn NKRI, yang saya telah menamai mereka sebagai suku Papua-Indonesia (Papindo Tribe). Kedua kelompok ini mengkleim diri sebagai pihak yang paling punya perhatian terhadap nasib dan masa depan Tanah dan Bangsa Papua. Kaum Papindo menyatakan, "Jangan ada gangguan keamanan, masyarakat mau hidup tenang, orang Papua cinta damai, mari kita bangun bangsa ini dengan damai." Jadi ada nada-nada 'damai', dan 'sejahtera'. Mereka melihat tanah ini disebut "merdeka" kalau ada kedamaian hidup bersama NKRI.



Karena pemikiran mereka yang pro-Papua tadi, mereka menganggap dirinya sebagai nasionalis Papua.



Bertolak-belakang dengan itu, orang Papua yang menginginkan NKRI keluar dari Tanah Papua menganggap merekalah yang nasionails.


Saya mau katakan keduanya memang nasionalis. Nasionalis Papindo menginginkan NKRI ada di Tanah Papua, dan kita bangun Tanah dan Bangsa Papua bersama NKRI, menjadikan Tanah dan Bangsa Papua hidup damai dan sejahtera, dengan dana Otsus dan dengan bermodalkan kekayaan alam yang tersedia. Sementara ituu nasionalis Papua Merdeka memandang orang Papua hanya akan hidup damai dan menjadi sejahtera kalau orang Indonesia dan NKRI tidak ada di Bumi Cenderawasih. Degan kata lain, kehidupan yang damai dan sejahtera di Tanah Papua hanya dapat diwujudkan kalau orang Papua sendiri yang membangunnya tanpa NKRI. Terhadap pandangan ini orang selalu menunjuk jari kepada Papua New Guinea dan Timor Lorosa'e dan mengatakan, "Kalian kalau merdeka sendiri tanpa Indonesia, nasib kalian paling-paling sama kacau dengan teman-temanmu sebang, PNG, sama melarat dengan sebangsamu di Lorosa'e."



Kedua Nasionalis Papua pada akhirnya harus bertarung membuktikan apa yang mereka maksudkan dengan "Papua Merdeka!"

_________________


READ MORE -

Kejahatan yang Tidak Mendapat Hukuman di Indonesia

9 Kejahatan, Tidak Mendapat Hukuman di Indonesia

Hukum di negara kita ini memang sunguh aneh hukum hanya tajam kepada rakyat kecil tumpul jika yang di hadapi orang yang memiliki kekuasan dan kekayan. Nah berikut ini ada 9 Tindakan kejahatan yang terkadang lepas dari jeratan hukum kamu mau tahu jenis kejahatan apa aja itu simak berikut ini.

1. Pembajakan
Dalam Studi yang dilakukan oleh IDC menyebutkan tingkat pembajakan di Indonesia mencapai 85% dengan potensi kerugian sebesar US$544 juta pada 2008. Kalau dibandingkan 2007 naik sebesar 1% dari 84% dengan potensi kerugian sebesar US$411 juta. Dengan hasil 85% tersebut, Persentase Indonesia ini sama dengan Vietnam dan Irak.

2. Pelanggaran rambu-rambu lalu lintas
Tingginya pelanggaran lalu lintas bisa dilihat dari angka pelanggaran yang terus meningkat. Data di Direktorat Lalu lintas Polda Metro Jaya tercatat catat 589.127 kasus selama tahun 2008 hingga awal 2009, atau rata-rata sehari sekitar 1.000 lebih terjadi pelanggaran. Dari angka tersebut, sekitar 60% dilakukan pengendara sepeda motor, 30% angkutan umum baik Mikrolet, Bis, Metromini dan lainnya, 10% sisanya mobil pribadi. banyak sekali.

3. Pernikahan dibawah umur
Laporan Pencapaian Millennium Development Goal’s (MDG’s) Indonesia 2007 yang diterbitkan oleh Bappenas menyebutkan, bahwa Penelitian Monitoring Pendidikan oleh Education Network for Justice di enam desa/kelurahan di Kabupaten Serdang Badagai (Sumatera Utara), kota Bogor (Jawa Barat), dan Kabupaten Pasuruhan (Jawa Timur) menemukan 28,10% informan menikah pada usia di bawah18 tahun.
Mayoritas dari mereka adalah perempuan yakni sebanyak 76,03%, dan terkonsentrasi di dua desa penelitian di Jawa Timur (58,31%).
Angka tersebut sesuai dengan data dari BKKBN yang menunjukkan tingginya pernikahan di bawah usia 16 tahun di Indonesia, yaitu mencapai 25% dari jumlah pernikahan yang ada. Bahkan di beberapa daerah persentasenya lebih besar, seperti Jawa Timur (39,43%), Kalimantan Selatan (35,48%), Jambi (30,63%), Jawa Barat (36%), dan Jawa Tengah (27,84%).

4. Main hakim sendiri
Mungkin inilah kejahatan yang paling sering terjadi di Indonesia. Asal ada pencopet atau penjahat kelas teri yang ketangkap pasti langsung main hakimi sendiri gak langsung di kasih sama pak polisi. ini udah menjadi budaya di negara kita.

5. Buang sampah sembarangan
Indonesia memang negara yang banyak angka kemiskinannya tapi kalau yang buta huruf kayaknya dikit gak terlalu banyaklah. Tapi masih banyak juga orang-orang yang masih aja buang sampah sembarangan meskipun udah di pasang pamplet DILARANG BUANG SAMPAH DISINI.

6. Pemukiman liar
Banyaknya penduduk di Ibukota mungkin jadi suatu alasan untuk meeka-mereka yang gak punya tempat tinggal untuk tinggal di tempat-tempat yang dilarang oleh pemerintah. kayaknya cuma di Indonesia yang ada namanya tempat pemukiman liar.

7. Diskriminasi dan SARA
Di Indonesia masih banyak yang namanya diskriminasi dan SARA. bisa kita liat contohnya dimana-mana. gak perlu di tulis di sini sat per satu coba liat aja di sekeliling kamu sekarang.

8. Pengemis
Tindakan tegas yang dilakukan Dinas Sosial terhadap pemberi sedekah kepada pengemis di jalan sesuai dengan PerdaNomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Sanksi yang tercantum dalam perda cukup berat, kurungan tiga bulan atau denda maksimal Rp 20 juta. Dan untuk si pemberi sedekah akan didenda Rp 300 ribu.

9. Kelakuan wakil rakyat dan pejabat
Sebanyak 75 mobil dinas anggota DPRD DKI Jakarta masa jabatan 2004-2009 belum dikembalikan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Padahal, para wakil rakyat itu sudah mengakhiri masa jabatannya pada Selasa. Para anggota Dewan kecuali empat pimpinan Dewan diberi fasilitas berupa mobil dinas Toyota Altis tahun 2007. Mobil itu dibeli dengan menggunakan APBD DKI dan berfungsi sebagai mobil operasional. Jadi, begitu anggota Dewan berhenti, mereka wajib mengembalikan mobil tersebut.

Sumber: majalahasik
READ MORE -

ANAK KEMBAR

Desa Penuh Anak Kembar

Siapa pun mungkin kesulitan mengenali anak-anak di Desa Kodinhi, Kerala, India. Sebab, sedikitnya ada 100 pasang anak kembar terlahir di desa tersebut. Dua puluh pasang di antaranya mengenyam pendidikan di sekolah menengah yang sama, yakni Seethi Sahib Memorial, Distrik Malappuram.

Tak heran jika guru di sekolah itu mendapat tugas tambahan untuk menghapal muridnya satu per satu. Kedua puluh pasang anak kembar itu berjenis kelamin sama dan merupakan kembar identik. Para guru kerap salah saat menyapa nama mereka. Apalagi setiap pasang anak kembar hanya dibedakan dengan belahan rambut.




 Salah satu pasangan kembar mengatakan, tanda lahir di leher merupakan salah satu pembeda mereka. Selebihnya mereka nyaris sama.

Warga Desa Kodinhi yang mayoritas muslim juga mengatakan, keberadaan anak kembar di desa itu bukan hal yang aneh. Mereka mengangapnya sebagai hal istimewa yang dianugerahkan Sang Pencipta.

Kebanyakan anak kembar juga lahir di rumah sakit yang sama. Menurut gynaecologist rumah sakit setempat, selama 10 tahun ia bekerja tercatat ada 100 hingga 150 kembar. Lima atau enam di antaranya kembar tiga. Kenyataan itu melahirkan misteri yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.

 sumber: liputan6
READ MORE -

SUKU MBAHAM

 SUKU MBAHAM

E T N O G R A F I  

M E L I R I K S E D I K I T 
T E N T A N G S U K U    M B A H A M


SUKU MBAHAM 

Manusia Mbaham merupakan suatu Suku yang dahulu hingga kini mendiami sebagian wilayah Jazirah Mbaham hingga Matta dan sekarang menjadi wilayah Kabupaten Fakfak. Suku Mbaham memiliki Bahasa tersendiri yang sangat berbeda dengan  Matta namun bahasa Mbaham merupakan Bahasa yang dikenal adalah Bahasa awal bagi kedua Suku ini. Ada satu bahasa lagi yang sudah hilang tapi masih selalu diingat namanya oleh orang orang tua suku Mbaham Matta yaitu, bahasa yang dianggap paling suci dan lebih dekat dengan Yang Maha Mulia yaitu Allah atau Kanda Wrirenggi (sebutan kudus bagi yang Sang Pencipta) 
            Suku Mbaham memiliki Nilai-nilai Religi dan Mitos yang selalu dianggap mempunyai makna yang sangat tinggi dan sangat sakral bagi kepercayaan atau agama budaya dari sebagian besar manusia suku Mbaham. Manusia suku Mbaham memiliki tradisi yang sangat kuat sehingga tidak mudah terpengaruh dari budaya luar sehingga sebagian generasi muda Mbaham masih tertinggal dalam hal mengenyam bangku pendidikan. Generasi muda Suku ini masih percaya dengan tradisi dan bahasa orangtua  yang selalu diajarkan setiap saat kepada mereka sebagai generasi Mbaham yaitu bahwa; “Kita adalah tuan- tuan tanah, kita memiliki harta kekayaan berupa hutan dan tanah yang luas sehingga walaupun tidak berpendidikan kita masih bisa menikmati hidup ini”. Ajaran semacam ini menjadi kebiasaan yang telah tertanam sejak lama, sehingga sulit untuk dipecahkan. Karena hingga saat ini alam masih memanjakan mereka dengan berbagai kemudahan. Dengan berkebun dan bercocok tanam saja mereka masih bisa menikmati berkat yang melimpah walau hanya sebatas makan dan minum, terpenuhi. 
          Dan salah satu ciri yang paling menonjol dari manusia suku Mbaham yaitu sifat indifidualisme yang sangat tinggi walaupun terkadang ada sisa-sisa primordial yang tertinggal tapi rasa primordialisme ini hanya digunakan pada momen atau situasi tertentu saja.  
         Kesederhanaan manusia suku Mbaham sangat kental sehingga mereka selalu berpikir apa adanya, karena sebagian besar berkat bagi anak cucu suku Mbaham telah disiapkan oleh nenek moyang kita, salah contoh yang paling nyata adalah adanya pembagian wilayah untuk Marga atau Klan atau Fam dengan Hak ulayat atau Hak Atas Tanah Adat yang telah diakui oleh masing masing marga sejak nenek moyang serta adanya tanaman Pala sebagai salah satu contoh nyata bagi adanya pembagian tanah adat sebagai hak ulayat dan sekarang pala sekarang sebagai hasil bumi yang paling diandalkan saat ini. 
          Pala merupakan hasil jerih payah nenek moyang suku ini, memang kita semua mengakui sejak awal mula peradaban suku ini, nenek moyang suku Mbaham sudah sangat maju dan jenius karena mereka telah berpikir tentang masa depan anak cucu mereka yaitu dengan membagi wilayah per marga dan membagi hasil/ bibit Pala yang entah didapatkan dari mana awalnya kemudian mereka membagi bibit pohon ini secara merata didalam setiap pemimpin Klan atau Fam atau Marga untuk ditanam dan hingga kini anak cucu Suku Mbaham telah menikmati hasilnnya. 
         Dengan adanya kerapatan adat, sebagai anak cucu suku Mbaham mulai menyadari bahwa begitu pentingya persatuan antar anak-anak cucu suku Mbaham dan betapa pentingnya dunia pendidikan agar masyarakat suku Mbaham kedepan lebih maju dan bersaing dengan saudara-saudara dari luar Mbaham baik orang Papua secara keseluruhan maupun orang suku Matta yang mungkin sedikit agak lebih maju yang dan terlebih dahulu mengenal peradaban Dunia luar karena mereka menyebar sepanjang pesisir pantai jazirah Mbaham Matta. 
         Putra putri Mbaham atau anak cucu suku ini mulai menyadari dan membangun kesadaran untuk berpikir lebih maju dan lebih bijaksana dalam mengambil setiap keputusan sesuai dengan Nilai-nilai budaya Mbaham tanpa mengesampingkan apa yang menjadi tuntutan jaman yaitu dunia modern dengan berbagai macam perkembangan dan kemajuan yang seperti virus mulai menyebar dan menggeroti sebagian Nilai-nilai budaya dan kesakralan nilai-nilai adat budaya suku Mbaham yang selama ini masih dianggap suci dan sakral.
  
PETA PENYEBARAN PENDUDUK SUKU MBAHAM. 
        Penduduk Mbaham hanya menempati dua distrik didalam kabupaten Fakfak yang memiliki luas wilayah sekitar 38.474 km persegi. Sebagian besar kabupaten ini dikuasai oleh Matta, dan sub suku suku kecil lainnya.  Daerah yang ditempati oleh penduduk asli suku Mbaham adalah sebagian distrik Kokas dan distrik Fakfak Timur dan sebagian lagi yang menyebar di sekitar distrik Karas.
  1. a.     Distrik Kokas 
          Suku Mbaham tersebar dari wilayah bagian bagian timur kabupaten Fakfak yaitu distrik kokas yang menempati wilayah pegunungan dan bagian pantai distrik ini dengan dengan penyebaran mulai dari kampong Wos, Weremu, Mitimber, Kinam, Kria Was Was, Mambunibuni, Fior, Furir, Goras dan Andamata.
  
  1. b.      Distrik Fakfak Timur 
           Sedangkan bagian timur daya kabupaten Fakfak yaitu tepatnya di Distrik Fakfak Timur sebagian penduduk suku Mbaham mulai tersebar dari Kampung Wayati, kampung Klamanuk, Kampung Kwama, kampung Kotam, kampung Wambar, Waserat, Sangram, Urat, Kria bisa, Tunas Gain, Saharei dan Kampung Weri sebagai letak ibu kota distrik Fakfak Timur dan ada sebagian lagi penyebaran penduduk suku Mbaham yang tersebar di Distrik  K aras.


KEADAAN PENDUDUK SUKU MBAHAM 

            Jumlah penduduk suku Mbaham rata rata untuk orang dewasa berkisar disetiap kampung kampung yang sudah terkaper adalah skitar kurang lebih 6000 sampai 7000 jiwa orang dewasa dihitung secara keseluran dari distrik Kokas hingga menyebar sampai distrik Fakfak Timur.  Sangat minim sekali dan hampir punah, bila dilihat secara keselurhan jumlah penduduk kabupaten fakfak yang sudah mencapai 50.584 jiwa menurut data statistik penduduk tahun 2000.

            Suku Mbaham selalu hidup sederhana, mereka sudah beradaptasi secara lama dengan lingkungan dan alam yang selalu memanjakan hidup mereka. Mereka belum begitu terpengaruh dengan dunia luar yang sudah mencapai masa globalisasi, walau sudah ada sebagian penduduk suku ini yang memang telah menetap dikota sebagai bagian dari warga masyarakat  kota yang multi etnis. Suku Mbaham masih memegang teguh nilai nilai adat dan budaya asli orang Mbahan. Contoh yang paling nyata adalah bahasa yang digunakan sehari hari adalah bahasa Mbaham. Tapi ada beberapa orang Mbaham yang sudah tidak menggunakan bahasa Mbaham lagi tapi sudah menggunakan Bahasa Indonesia, bahasa seram, dan basasa Matta. 
             Ciri ciri paling utama dan sangat menonjol dari suku Mbaham adalah hidup sederhana apa adanya, akhirnya mereka terlalu cepat percaya dengan rayuan berbagai macam kepentingan politik, jika rayuan itu datang dari orang orang yang memang dianggap berpengaruh, dalam bidang politik atau eksekutif, misalnya seorang pejabat Negara  seperti bupati atau para anggota dewan yang ingin mengembangkan kepentingan politiknya, masyarakat suku Mbaham selalu menerima dan memutuskan sesuatu tanpa memikirkan konsekwensi logis yang akan terjadi kemudian dengan keputusan yang telah diambil oleh tua tua adat suku ini karena mereka masih memegang teguh adat istiadat “Apa yang Nen Bicara dan Apa yang Nen Putuskan Itulah yang paling benar” Masih terlalu percaya pada pendapat dan permintaan orang luar. Mereka masih tidak mengakui anak mereka sendiri tapi lebih mengutamakan kepentingan dan pengaruh dari luar.


MATA PENCARIAN SUKU MBAHAM 

           Suku Mbaham sudah meninggalkan budaya meramu, atau mengumpulkan makanan dan berburu binatang buruan seperti babi, rusa, kasuari, burung burung yang bisa dimakan, ikan, udang dan buaya. Sejak dahulu nenek moyang suku Mbaham selalu berpindah pindah tempat. Tapi diperkirakan sejak Tahun 1600-san suku Mbaham sudah mulai menetap dengan terbentuknya kampung kampung yang hingga kini telah menjadi hutan belantara seperti kampung Rombena, kampung Wonggesten, Kampung Mury Tagan dan Kampung Wagap Yon,  yang telah mencatat sejarah bagi berdirinya kota Pala Fakfak. 
          Dimana pada masa itu ada sebuah surat yang dikeluarkan pemerintah Kerajaan belanda yang berada di kawasan Jasirah Mbaham Matta untuk membuka hutan diatas tanah milik Marga Ndandarmana, Woretma, Rohrohmana, Patiran,  Wanggom dan Namudat atau marga peleburan dari beberapa marga yang menduduki wilayah pantai barat daya untuk membuka atau menebang hutan untuk pembuatan kota Fakfak pertama kali. 
          Dari sinilah sejarah asal Mula kota Fakfak yang sesungguhnya. Tapi bagian sejarah ini selalu dilupakan oleh semua manusia yang hidup di kota kabupaten atau kota pala Fakfak. Jika kita ingin menelusuri dan menyimak sejarah kota tertua di propinsi papua yang dikenal sebagai kota budaya dan kota pendidikan maka surat yang dikeluarkan oleh pemerintah residen belanda di Fakfak itu yang harus diceritakan lebih dahulu, bukan berbagai versi cerita rekayasa yang ada selama ini, yang diciptakan hanya untuk kepentingan politik dan kepentingan ekonomi marga atau kelompok tertentu yang selalu mengklaim bahwa negri ini milik mereka. ( cerita-cerita orang tua Mbaham ) 
  1. a.      Bercocok tanam atau berkebun 
          Setiap suku mempunyai cara bercocok tanam atau berkebun yang sangat berbeda antara salah satu suku dengan suku suku lainnya di Papua. Orang Mbaham menurut mitologinya setiap marga atau fam telah diberi jenis talas sesuai dengan marga masing masing yang telah secara langsung diberikan oleh sang Maha Kuasa. (Wodorpho mima newo tengge winggat kno ponggothurnin) Setiap marga atau fam telah diberikan pegangan berupa bibit tanaman sebelum diturunkan ke bumi oleh Yang Maha Kuasa. Ini mite yang mulai hilang dan jarang diceritakan kepada setiap generasi Mbaham Matta. Ini sesuatu yang masih dianggap sakral tapi penulis mencoba menggalinya sedikit saja.  
        Suku Mbaham memilik tradisi atau cara bercocok tani yang berbeda dengan suku lainnya di Papua.  Orang orangnya selalu membuka hutan kemudian menanam berbagai jenis umbi umbian, berbagai jenis Talas, dan ketela pohon serta tebu. Cara bercocok tanam mereka yaitu setelah hutannya dibersihkan mereka mulai menanam berbagai bibit tanaman tadi kemudian kayu kayunya ditebang dan ranting rantingnya di potong kemudian diserakkan atau dihambur hambur hingga merata di seantero tanaman yang telah mereka tanam.  Orang orang suku ini sudah menyadari bahwa semua tanaman yang ditanam membutuhkan sinar matahari untuk bertunas dan menjadi besar hingga umbi umbian dan Talas atau berbagai tanaman lainnya menghasilkan buah yang lebih baik. 
         Tanaman atau jenis umbi umbian atau Talas atau tebu yang ditanam memiliki nama sendiri sesuai jenis dan warna yang ada pada batang atau tali umbi yang menjalar, kadang mereka member nama dengan warna dan jenis daun atau bentuk daun yang pada talas atau jenis warna daun pada Ubi jalar  atau ubi kayu pada daun dan jenis batangnya. Nama yang diberikan menggunakan bahasa Mbaham maupun bahasa Matta. Pemberian nama ini juga diberikan pada jenis tebu, yang berbatang kecil atau pun berbatang besar atau bentuk ruas tebu dibedakan sesuai dengan nama yang diberikan dan sampai saat ini masih ada nama nama itu dalam bahasa Mbaham atau bahasa Matta.
  
  1. b.      Berburu binatang buruan 
         Selain bercocok tanam, mereka juga melakukan perburuan binatang buruan untuk diambil dagingnya. Cara berburu mereka ada tiga cara yaitu; Dengan membuat atau memasang jerat di hutan, kedua dengan cara membawa anjing di hutan untuk mengejar dan menangkap buruan, dan ketiga dengan cara menjaga kebun atau tempat tempat dimata binantang buruan selalu mencari makan pada malam hari. Misalnya ada berbagai jenis bijian yang disukai binatang seperti babi, kasuari atau rusa datang untuk menikmati biji bijian pada malam hari. Tapi sebelumnya orang Mbaham sudah tahu kalau biji bijian pohon tersebut telah musim untuk dinikmati oleh binantang buruan.  Saat inilah, lelaki Mbaham yang pembrani pergi untuk menjaga binatang buruan dengan tumbak atau alat untuk menikam binantang buruan lainnya. 
Ada juga binantang buruan yang mereka buru bila selalu mengganggu kebun mereka. Bila ada babi yang mengganggu, biasa mereka memasang jerat atau diburu secara langsung pada malam hari dengan cara cara diatas (mengerahkan anjing piaran atau menjaga kebun pada malam hari dengan tombak atau alat tajam lainnya).
  1. c.       Cara mengiris atau memotong binatang buruan 
          Orang Mbaham memiliki cara tersendiri dalam memotong atau mengiris binatang buruan yang sangat berbeda dengan suku suku lainnya yang ada di Papua. Misalnya babi sebelum diiris atau dipotong, terlebih dahulu bulu bulunya dibakar kemudian bulu bulu yang sudah terbakar tadi dikikis hingga bersih dengan parang. Setelah itu ditaruh diatas daun pisang, barulah mereka mulai menyayat bagian dada antara tangan depan kiri dan kanan hingga terus ke bagian perut, sedangkan bagian atas hingga ke bagian rahang bawah dicabut bersama sama dengan bagian perut dipisahkan lebih dahulu. Barulah semua tulang tulang binatang tadi keluarkan hingga yang tersisa adalah dagingnya saja. Kemudian dagingnya dipotong potong dan dibagi dalam bagian bagian kecil membentuk persegi panjang. 
         Cara diatas adalah cara mengiris babi, sedangkan pada daging rusa yang dilakukan duluan adalah menguliti kulitnya. Kemudian dipotong potong menjadi bagian kecil, tapi sebelum itu tulang tulangnya dikeluarkan lebih dahulu, sedangkan pada binatang buruan seperti kasuari cara mengiris atau memotongnya hampir sama dengan cara mengiris babi.
  
SISTEM KEKERABATAN 
            Sistem kekerabatan yang ada adalah sistem kekerabatan menurut marga atau fam fam dalam suku Mbaham. Sistem kekerabatan ini masih ada hingga kini dan dipegang teguh baik oleh orang orang Suku Mbaham maupun Suku Matta di bagian barat atau ujung jasirah Mbaham. Sistim kekerabatan ini merupakan system politik kuno bagi suku Mbaham, dimana ada kelompok marga yang dianggap paling tua atau Nen dalam bahasa Matta ada kelompok marga yang berada di golongan tengah, dan ada juga yang dianggap paling terakhir atau bungsu. 
         Ada juga pengelompokan didalam satu marga, sesuai dengan struktur keturunan dari nenek moyang marga tertentu didalam marga atau Fam itu sendiri. 
Struktur keturunan disini dimaksudkan adalah sebagai contoh marga memiliki satu moyang yang kemudian moyang tadi memiliki keturunan misalnya tiga orang anak hingga kini keturunan dari tiga orang tadi terbagi menjadi tiga golongan besar karena mereka telah memiliki banyak keturunan. Dan didalam pengelompokan struktur sesuai marga ada tiga kelompok yaitu golongan pertama, golongan tengah, dan yang paling bungsu.
HIDUP BERKELOMPOK DAN PEMIMPIN DESA 
            Suku Mbaham saat ini sudah memiliki pola hidup yang baru, dimana mereka sudah mulai mengenal dunia politik modern terlepas dari dunia politik adat yaitu satu ras tau suku memiliki pemimpin tertinggi yang memimpin mereka atau tuan tanah secara feudal. Tapi di jaman modern ini mereka sudah mengangkat kepala kampung sebagai pemimpin mereka di bidang pemerintahan atau politik modern. Tapi dalam hal kebudayaan dan adat istiadat masih ada pemimpin secara adat dan secara feudal atau tuan tuan tanah yang selalu menjadi panutan didalam masyarakat disetiap kampong, bahkan satu kawasan tertentu yang mereka anggap sebagai orang yang paling tua didalam setiap marga marga atau fam fam yang ada di suku Mbaham.
  
RELIGI/ AGAMA ATAU KEPERCAYAAN 
          Sebagian generasi suku Mbaham sudah melupakan kepercayaan animism atau agama budaya leluhur yang dahulu dipegang oleh nenek moyang suku ini, tetapi kini sebagian besar bahkan hampir semua keturunan suku Mbaham telah berganti dengan menganut agama agama Wahyu seperti agama Nasrani dan Muslim. Orang Mbaham yang berada dipesisir pantai, kebanyakan dari mereka telah menganut Agama Islam dan yang berada jauh di pedalaman menganut agama Kristen Protestan dan ada juga sebagaian yang menganut agama Katolik. 
           Hanya kampung Wayati, kampung Sangram dan Kampung Kuama di Distrik Fakfak Timur yang memang berada di pesisir pantai bagian timur Jasirah Mbaham tapi mereka menganut agama Katolik dan Protestan.

MASALAH SOSIAL DAN PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN 

          Penduduk suku Mbaham masih belum begitu maju sehingga rata rata penduduk suku Mbaham masih berada dibawah garis kemiskinan, sedangkan tingkat pendidikan dalam hal ini orang yang mengenyam pendidikan SD dan SMP masih lebih banyak ketimbang tingkat SLTA / SMA apalagi yang sampai ke jenjang Perguruan Tinggi atau Sarjana untuk orang orang Mbaham masih bisa dihitung dengan jari. Dalam sebuah kerapatan adat yang digelar dikapung Weremu, seorang tua tua adat berkata dalam bahasa Mbaham mengatakan bahwa : “Kami juga menginginkan setiap kali kita ke kantor kantor pemerintahan yang ada di kabupaten fakfak, ada orang yang menyapa kita menggunakan bahasa Mbaham” 
         Pernyataan ini merupakan sebuah kerinduan yang luar biasa dari orang orang Mbaham untuk mengenyam bangku pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi agar mereka bisa maju sama seperti saudara saudaranya yang lain yang ada di Matta.
  
BAHASA 
           Setiap suku bangsa memiliki sebuah bahasa ibu sebagai identitas sebuah suku dimuka bumi ini untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya. Bahasa merupakan alat terpenting yang selalu digunakan setiap saat untuk melakukan kontak dengan sesama komunitas maupun dengan orang luar.  Ada berbagai jenis bahasa,  ada bahasa isyarat, ada bahasa tubuh, ada bahasa yang dikeluarkan berupa kata kata dari mulut seseorang kepada orang lain dan orang lain atau lawan bicara membalasnya dengan kata kata yang berbeda tapi mereka sama sama mengerti apa yang mereka maksudkan. 
           Suku Mbaham memiliki bahasa tersendiri yaitu bahasa Mbaham, bahasa ini digunakan sehari hari untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya. Tapi ada juga bahasa yang sering digunakan yaitu bahasa Iha, atau Matta Mag. Bahasa Iha tau Matta mag ini dimengerti oleh orang Mbaham maupun orang Matta maupun orang Yarik dan Hagager, sebagai suku suku kecil yang mendiami bagian pantai Jasirah Mbaham Matta.




(Penulis masih menggali sejarah Suku Mbaham Matta dan beberapa sub suku kecil yang mendiami Jasirah ini, jadi penulis mengharapkan masukan dan kritikan untuk melengkapi tulisan ini, NEN ROY HEGEMUR
READ MORE -

Free Beat

READ MORE -
 

Kejujuran adalah batu penjuru dari segala Kesuksesan,Pengakuan adalah motivasi terkuat.
Bahkan kritik dapat membangun rasa percaya diri saat "disisipkan" diantara pujian.